Bima.Merupakan salah satu diantara banyak kereta api yang beroperasi di Indonesia.Tentunya beberapa dari kita mengenal nama kereta yang melegenda tersebut.Kereta yang memulai rute dari Stasiun Malang ke Stasiun Gambir (melewati Stasiun Surabaya Gubeng dan Stasiun Yogyakarta) dan bernomor kereta 43-46 menyuguhkan perjalanan malam pantai selatan Jawa.Tempo hari saya berkesempatan mencoba kereta tersebut pada 22 Juni 2019 dari Stasiun Sidoarjo.
Walaupun dirasa harga mahal (Rp 350.000,00) tetapi dirasa cukup untuk kereta sekelas eksekutif dengan menempuh perjalanan dari Sidoarjo ke Yogyakarta .Sebelumnya, KRD Komuter tiba di Stasiun Sidoarjo dengan tujuan akhir Stasiun Surabaya Kota pada pukul 15.20-an. Pukul 15.56, kereta yang akan saya naiki tiba di Stasiun Sidoarjo dengan lokomotif CC 206 khasnya serta kereta eksekutif angkatan 2016 buatan INKA,Madiun yang dikenal dengan kacanya yang panjang dan berbogie (roda kereta) K10. Saya memilih single seat agar terasa lebih leluasa bila ingin keluar masuk kereta.Pukul 16.00, kereta yang saya naiki lepas menuju Stasiun Yogyakarta. Dua puluh menit kemudian, kereta pun tiba di Stasiun Surabaya Gubeng memasuki jalur 2. Disampingnya terdapat kereta Turangga yang akan diberangkatkan menuju Stasiun Bandung pada pukul 16.30. Sempat berhenti sekitar 30 menit untuk memutar lokomotif di stasiun,saya sempatkan untuk keluar sejenak dan membeli makan malam yaitu nasi goreng rawon dan teh hangat.Kursi kereta juga diputar balik menghadap ke arah lokomotif yang telah diputar.Pukul 17.00, kereta api Bima diberangkatkan menuju Kota Jakarta. Walaupun kereta angkatan 2016 dikenal karena getarannya yang keras terutama diatas bogie,tetapi tetap sah-sah saja bagi saya dalam menikmati perjalanan.
Sepanjang jalur rel Surabaya-Mojokerto disuguhkan dengan indahnya senja kala itu.Ditemani teh hangat tadi yang saya beli dan playlist Spotify saya dengan lagu indie-nya sungguh membuat tenang dan damai waktu naik kereta sembari menikmati senja. KA Bima yang saya naiki hanya berhenti di stasiun tertentu dan bisa dikatakan hampir selalu tepat waktu. Ada salah satu kejadian unik pada saat di Stasiun Nganjuk, kereta berhenti sekitar 10 menit untuk bersilang dengan KA Argo Wilis yang melintas langsung. Dan KA Bima langsung diberangkatkan 10 menit kemudian dari Stasiun Nganjuk pada saat itu juga. Tapi kenapa diberangkatkan langsung tanpa menunggu KA Argo Wilis masuk? Rupanya proyek jalur ganda antara Stasiun Nganjuk hingga Stasiun Babadan,Madiun telah difungsikan sehingga KA Bima akan berpapasan dengan KA Argo Wilis.
Sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta,hanyalah pemandangan gelap yang saya lihat.Melewati Kota Madiun, Solo, dan Klaten.Dan akhirnya saya tiba di Stasiun Tujuan,Yogyakarta pada pukul 21.45 tepat waktu di peron utara jalur 5. Disebelah selatan terdapat KA Taksaka Tambahan yang mengakhiri perjalanan yang sama dengan KA Bima yaitu di Stasiun Gambir.
Keseluruhan saya menilai perjalanan ini nilai 8.1/10 terlebih pada kursi selama perjalanan.Pada kursi saya tidak dilengkapi tirai dan berfungsi sebagai kaca
darurat bila terjadi kecelakaan, tetapi kaca darurat tersebut dibuat
buram tidak seperti kaca yang lain guna tidak terlalu silau bila terkena
sinar matahari atau pancaran lampu. Ditambah luas space yang kurang lega dari Surabaya ke Yogyakarta,kecuali dari Sidoarjo ke Surabaya yang mendapatkan sandaran kaki dan space yang leg.Terutama space bagasi yang sempit,sehingga saya menaruh barang bawaan didepan saya dan saya gunakan sebagai sandaran kaki. Tapi itu tergantung anda dalam memilih perjalanan kereta api termasuk dalam memilih kelas kereta sesuai kenyamanan anda.
Sekian dan nantikan perjalanan berikutnya
(Mohon maaf saya hanya menampilkan foto bukti perjalanan,karena saya tidak sempat memotret sepanjang perjalanan)

������ bagus untuk wawasan traveling
BalasHapus